Vaksin COVID yang Diblokir Bos CDC Akhirnya Terbit di Jurnal Lain!

Halo guys, ada kabar baru soal vaksin COVID yang lagi ramai dibahas. Studi yang sempat diblokir oleh Acting Director CDC, Jay Bhattacharya, akhirnya keluar juga hari ini (23 Juni 2026) di jurnal terpercaya lain, yaitu JAMA Network Open.

Apa sih isinya?

Studi ini nunjukin bahwa vaksin COVID (formulasi 2025-2026) ngurangin kemungkinan orang dewasa sakit parah sekitar 50% musim gugur dan dingin kemarin. Khususnya, risiko ke ER/UGD karena COVID turun 50%, dan risiko dirawat inap turun sampai 55%.

Cara penelitiannya pakai metode “test-negative design”. Intinya, mereka bandingin orang yang datang ke rumah sakit atau UGD dengan gejala mirip COVID, lalu dicek hasil testnya. Yang positif vs yang negatif, dibandingin status vaksinasinya. Metode ini katanya cepat, murah, dan efisien buat liat efektivitas vaksin di dunia nyata.

Kenapa sempat diblokir?

Bhattacharya nggak suka sama metode ini. Dia lebih percaya sama studi cohort longitudinal (ngikutin orang dalam waktu lama, bandingin yang divaksin vs nggak). Menurut dia, test-negative design bisa overestimate atau underestimate efektivitas vaksin, dan nggak ngitung orang yang nggak ke rumah sakit sama sekali.

Studi ini sebenarnya udah lolos review ilmiah dan disetujui editor MMWR (jurnal resmi CDC), tapi Bhattacharya tetap nahan. Banyak yang anggap ini campur tangan politik, apalagi Sekretaris HHS Robert F. Kennedy Jr. yang dikenal anti-vaksin.

Tanggapan dari ahli

Natalie Dean, profesor biostatistik dari Emory University, bilang metode test-negative ini udah dipake bertahun-tahun dan nggak bikin kesimpulan jadi rusak. Dia bahkan ikut review studi ini di JAMA dan tetap kasih lampu hijau. Menurutnya, ini tool penting buat evaluasi vaksin cepat, meski ada keterbatasan (misalnya orang yang ke RS biasanya lebih trust medis, jadi lebih sering vaksin).

CDC sendiri bilang mereka mau pastiin semuanya rigor dan transparan sebelum rilis.

Intinya?

Vaksin masih keliatan efektif ngurangin risiko sakit berat, meski kontroversi soal metodologi dan politiknya tetep ada. Studi ini sekarang bisa dibaca publik di jurnal AMA, bukan di MMWR CDC.

Kamu gimana pendapatnya? Masih percaya vaksin booster atau lebih nunggu data lebih kuat? Kasih tau di komentar ya! 😊

(Artikel ini dirangkum dan ditulis ulang secara kasual berdasarkan berita NBC News, tanpa nambah-nambah fakta.)


Tinggalkan komentar